Harga Minyak Menjadi Jatuh Akibat Tarif Tambahannya Melonjak

Sejak tanggal 30 Agustus 2019 harga minyak mentah dunia melemah tajam, diakibatkan oleh faktor bergejolaknya perdagangan Tiongkok dan Amerika Serikat. Minyak WTI atau West Texas Intermediate, nanti akan naik 1,72 % pada bulan Oktober. Selain itu Brent minyak mentah juga sama harganya akan meningkat 1,84 persen dari biasanya. Ternyata indeks dolar Amerika Serikat pada sepekan ini telah melebihi level atas, sehingga tak heran jika nilai jualnya melejit.

Pada area Mercantile Exchange New York, WTI harga minyak minggu sekarang bisa mencapai USD55,1 per barel. Sedangkan Brent atau minyak mentah di kawasan ICE Futures Exchange  London melambung menjadi USD60,43 per barel. Pergejolakan ini terjadi selama satu mingguan.Kejadian ini sangat memicu perlambatan ekonomi dunia secara global. Sehingga perminyaan produk tersebut akan berkurang, karena terlalu jatuh.

Harga Minyak Mencapai Puncak

Harga minyak mentah mencapai puncaknya sejak bulan April 2019 hingga sekarang masih jatuh levelnya.Adapun WTI bisa sampai empat puluh persenan naiknya, sedangkan Brent mentah mencapai 30 %. Kalau diamati pada minggu ini pergerakan nilai jual kedua bahan mentah ini sama, belum ada perubahan. Oleh Karena itu sangat menyebabkan masyaraat ikut merasakan imbasnya ketika membeli.

Peningkatan harga minyak naik secara berkepanjangan, membuat banyak orang menjadi khawatir. Sebab pertumbuhan ekonomi otomatis akan semakin lambat di Amerika Serikat, dan bangsa Rusia kabarnya telah mengaplikasikan gerakan pengurangan penggunaan produksi minyaknya, serta menetapkan konsep harga jualnya. Peristiwa ini akan terus terjadi apabila perang dagang Tiongkok dengan AS terus terjadi.

Persediaan yang Ada Mempengaruhi Harga Minyak

Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan harga minyak yaitu persediaan stok yang ada. Jika sedikit maka akan naik, apabila membludag otomatis menjadi lebih murah dari biasanya. Dalam beberapa hari yang lalu, nilai jualnya menurun drastis.Kejadian ini membuat para penanam modal atau investor menjadi resah, terlebih lagi apabila minyak mentah Amerika Serikat tak terkontrol.

Pada tanggal dua puluh tiga Agustus 2019, berdasarkan informasi dari EIA atau Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat, kabarnya persediaan minyak mentah berkurang.Harga minyak dipasaran mencapai dua ribu seratus dua belas barel.Hal ini menjadi suatu pertanda permintaan konsumen sedang banyak sekali.

Konfik Perdagangan Berengeruh Sekali Terhadap Harga Minyak

Harga minyak dari bulan pertama tahun 2019 terus mendapat sorotan publik, bahkan produksinya suruh dikurangi.Hal ini merupakan keputusan dari OPEC dan geopolitik.AS merasa khawatir kalau permintaan konsumen menurun, terlebih lagi adanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Setelah permasalahan ini selesai kedua belah pihak pasti akan mengadakan perjanjian dagang yang baru. Hal ini sangat diyakini oleh PVM Tamas Varga Broker Minyak.

Jika diamati perkembangan harga minyak mengalami turun drastis ketika adanya perang dagang antara AS dan China di bulan Agustus.Namun di awal September 2019 ini mengalami kenaikan, karena ada tambahan tarif untuk barang impor dari China.Sehingga negara tersebut pun membalas meningkatkan tambah biaya kepada Amerika Serikat. Sebenarnya Tiongkok tidak setuju akan hal ini, namun dari Amerikanya yang membuat keputusan untuk melonjakan harganya. Hampir semua barang dari Amerika Serikat, China naikan tarifnya karena adanya sengketa dagang.Bahkan harga minyak juga begitu, sudah mulai direalisasikan meningkat sepuluh persen. Adapun jumlah barang totalnya ada lima ribu tujuh puluh delapan yang melonjak. Baik itu jenisnya produk industri, dan pertanian.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *